dari manakah datangnya keinginan ? keinginan selalu datang dari hati yang bolak balik , bisa jadi keinginan berasal dari sesuatu yang baik atou sebaliknya. sayangnya sering kali kita tidak melihat sesuatu dibalik keinginan karena perhatian kita fokus pada keinginan , bukan yang ada dibalik keinginan. para ahli pemasaran ataou penjualan sering mengatakan bahwa keputusan membeli seuatu , lebih sering disebabkan oleh keinginan. kemudian logika membenarkan keinginan tersebut , emosi sering kali berperan dalam mengambil keputusan di banding pikiran atou logika.
jika keinginan kita selalu dituruti ,.artinya kita tidak bisa mengendalikan hidup kita , sungguh kita mnegabaikan potensi yang diberikan allah swt kepada kita. kita harus mengoptimalkan akal kita ,agar hidup ini baik. caranya berhentilah saat kita mengigini sesuatu.,
Rabu, 19 Desember 2012
Sabtu, 08 Desember 2012
menjadi muslim yang baik ,.amiin ya allah
Alasan Allah menguji hambanya adalah karena hamba tersebut memiliki
potensi spesifik untuk mengemban ujian tersebut. Maka ketika kita merasa
memiliki banyak permasalahan, yakinilah bahwa kita adalah orang yang
sabar. Ketika kita mendapatkan begitu banyak godaan untuk tidak ikhlas,
maka yakinilah bahwa kita ini adalah orang yang ikhlas. Ketika kita
mendapatkan begitu banyak kenikmatan, jangan lupa bahwa kita adalah
seorang hamba yang pandai bersyukur. Ketika kita menghadapi begitu
banyak pekerjaan melelahkan, yakinilah bahwa kita adalah seorang yang
kuat. Tidak ada alasan untuk mengeluh! Allah menguji hambanya sesuai
dengan kadar kesanggupan seorang hamba.(QS 2:286)
Hanya saja kadang potensi spesifik tersebut tertutupi oleh sifat kontradiktif yang dominan timbul dalam keseharian seorang hamba. Kadang-kadang ada hamba tidak sabar menghadapi problematikanya. Dan kita akui bahwa kuantitas dan kualitas masalah orang tersebut melebihi kita. Sayang ketidak sabaran menjadi sifat dominannya. Padahal maksud Allah memberi banyak masalah kepadanya adalah untuk mengangkat potensinya yang terkubur – atau istilah minangnya ‘batang tarandam’ – oleh sifat kontradiktif dominan yang biasa tampak padanya. Intinya, orang tersebut sebenarnya adalah orang yang penyabar, hanya saja penyabar belum menjadi identitas orang tersebut
Kenyataan tersebut kita dapatkan pada seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Ka’ab adalah seorang sahabat yang tertinggal dalam perang tabuk, bahkan karena merasa enggan karena sudah tertinggal jauh, Ka’ab memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang tabuk. Ketiadaan Ka’ab dalam perang Tabuk membuat gempar para sahabat. Dan ketika pasukan muslimin telah kembali, Ka’ab diminta menghada Rasulullah untuk mengemukakan alasan ketidak hadirannya.
Ketika dia harus menghadap Rasulullah, terjadi benturan dilematis dalam benaknya, antara mengeluarkan kemampuannya: berdalih hingga ia keluar dari permasalahan tersebut, atau berterus terang. Pada akhirnya ia berterus terang. Dengarlah pengakuannya, “Ya Rasul, demi Allah, umpama sekarang ini saya sedang duduk di depan seseorang selain engkau, pasti saya akan mengutarakan sejuta alasan untuk menyelamatkan diriku. Saya pandai berdebat Ya Rasul…”
Sejatinya Ka’ab adalah seorang yang jujur, sehingga ia diuji oleh Allah dalam keadaan dilematis untuk mengungkapkan kejujurannya. Sifat kontradiktif dominannya adalah – seperti yang telah ia akui – pandai berdebat. Lihatlah akhirnya potensi kejujuran itu terangkat dan ia menjadi seorang yang jujur. Itulah buah hasil ujian dari Allah.
“Ya Rasul, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan saya karena kebenaran pengakuan saya, maka saya berjanji untuk kelanjutan taubatku, ‘Tidak akan berbicara selama hidupku, kecuali pembicaraan itu bicara yang benar.” Ungkap Ka’ab ketika rangkaian ujian berupa pengasingan telah berakhir menimpanya.
Maka sadarilah, ketika kita berdo’a “Ya Allah, jadikanlah aku seorang hamba yang sabar.” Maka Allah mengabulkan do’a kita: Kekuatan ketabahan kita bertambah. Hanya untuk menjadikan kesabaran itu sebagai sifat dominan, Allah mengirim rentetan masalah pada kita. Begitu juga ketika kita meminta pada Allah keikhlasan dalam beramal. Yakinilah Allah mengabulkan do’a kita dan kekuatan keikhlasan kita bertambah. Dan supaya keikhlasan itu menjadi identitas kita, maka Allah menurunkan banyak godaan dalam beramal. Untuk melawan itu semua dikerahkanlah bekal yang telah Allah tambahkan. Dan jadilah apa yang kita harapkan itu menjadi identitas kita.
Hanya saja kadang potensi spesifik tersebut tertutupi oleh sifat kontradiktif yang dominan timbul dalam keseharian seorang hamba. Kadang-kadang ada hamba tidak sabar menghadapi problematikanya. Dan kita akui bahwa kuantitas dan kualitas masalah orang tersebut melebihi kita. Sayang ketidak sabaran menjadi sifat dominannya. Padahal maksud Allah memberi banyak masalah kepadanya adalah untuk mengangkat potensinya yang terkubur – atau istilah minangnya ‘batang tarandam’ – oleh sifat kontradiktif dominan yang biasa tampak padanya. Intinya, orang tersebut sebenarnya adalah orang yang penyabar, hanya saja penyabar belum menjadi identitas orang tersebut
Kenyataan tersebut kita dapatkan pada seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Ka’ab adalah seorang sahabat yang tertinggal dalam perang tabuk, bahkan karena merasa enggan karena sudah tertinggal jauh, Ka’ab memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang tabuk. Ketiadaan Ka’ab dalam perang Tabuk membuat gempar para sahabat. Dan ketika pasukan muslimin telah kembali, Ka’ab diminta menghada Rasulullah untuk mengemukakan alasan ketidak hadirannya.
Ketika dia harus menghadap Rasulullah, terjadi benturan dilematis dalam benaknya, antara mengeluarkan kemampuannya: berdalih hingga ia keluar dari permasalahan tersebut, atau berterus terang. Pada akhirnya ia berterus terang. Dengarlah pengakuannya, “Ya Rasul, demi Allah, umpama sekarang ini saya sedang duduk di depan seseorang selain engkau, pasti saya akan mengutarakan sejuta alasan untuk menyelamatkan diriku. Saya pandai berdebat Ya Rasul…”
Sejatinya Ka’ab adalah seorang yang jujur, sehingga ia diuji oleh Allah dalam keadaan dilematis untuk mengungkapkan kejujurannya. Sifat kontradiktif dominannya adalah – seperti yang telah ia akui – pandai berdebat. Lihatlah akhirnya potensi kejujuran itu terangkat dan ia menjadi seorang yang jujur. Itulah buah hasil ujian dari Allah.
“Ya Rasul, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan saya karena kebenaran pengakuan saya, maka saya berjanji untuk kelanjutan taubatku, ‘Tidak akan berbicara selama hidupku, kecuali pembicaraan itu bicara yang benar.” Ungkap Ka’ab ketika rangkaian ujian berupa pengasingan telah berakhir menimpanya.
Maka sadarilah, ketika kita berdo’a “Ya Allah, jadikanlah aku seorang hamba yang sabar.” Maka Allah mengabulkan do’a kita: Kekuatan ketabahan kita bertambah. Hanya untuk menjadikan kesabaran itu sebagai sifat dominan, Allah mengirim rentetan masalah pada kita. Begitu juga ketika kita meminta pada Allah keikhlasan dalam beramal. Yakinilah Allah mengabulkan do’a kita dan kekuatan keikhlasan kita bertambah. Dan supaya keikhlasan itu menjadi identitas kita, maka Allah menurunkan banyak godaan dalam beramal. Untuk melawan itu semua dikerahkanlah bekal yang telah Allah tambahkan. Dan jadilah apa yang kita harapkan itu menjadi identitas kita.
KOMPAS.com - Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang cerdas. Banyak hal pun dilakukan agar sang buah hati tumbuh besar dan cerdas, salah satunya dengan memberikan pendidikan formal maupun informal. Meskipun begitu, saat di rumah orang tua tetap memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan anak, khususnya anak yang masih balita.
"Orang tua memiliki porsi yang sangat besar dalam tumbuh kembang anak. Guru-guru di sekolah hanya sebagai partner orang tua dalam mendidik anak, dan bukan sebaliknya," ungkap Lely Tobing, Direktur Twinkle Stars, saat open house Twinkle Stars, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (10/9/2011).
Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendidik anak-anak di luar jam sekolahnya. "Fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah, memang belum tentu ada di rumah. Di sini lah kreativitas orang tua diperlukan untuk menggunakan peralatan yang ada dan biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari agar anak bisa belajar dan mengenal," tukas Lely.
Dengan lebih mengenal bagaimana harus menjalani kehidupan sehari-hari secara langsung, anak tidak hanya sekadar menghafal teori-teori semata. Orangtua bisa memberikan anak sedikit tanggung jawab untuk merapikan tempat tidurnya sendiri, ataupun menyiram tanaman. Anak pun akan lebih mudah menyerap informasi dari orang tuanya karena adanya hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak.
"Ini hubungan alami yang terjadi antara orang tua dan anak. Dengan demikian anak akan merasakan rasa aman dan nyaman ketika belajar dengan orang tuanya," tambah Lely.
Tak hanya membantu anak mengulang kembali pelajaran ataupun aktivitas lain di sekolah, orangtua juga harus mengetahui setiap tahap perkembangan anak di sekolah. Dengan demikian, komunikasi antara guru dan orangtua sangat diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan optimal dan menghasilkan anak yang cerdas.
Langganan:
Postingan (Atom)